Sabtu (9/1) remang-remang jalanan cisitu menjadi saksi betapa sebuah fenomena kontroversial mengambil alih seluruh sistem saraf dan otak manusia. Betapa tidak, sistem saraf dan otak manusia mengalami badai progresif dalam kaitannya dengan pengambilan sikap standard dan suportif. Istilahnya, saraf dan otak telah lebih memilih mengedepankan ilusi emosional dan mengesampingkan apa yang disebut sebagai LOGIKA.
Fenomena yang terjadi di Cisitu malam itu memang seperti the bottle neck phenomenon. Cisitu yang terkenal dengan sistem hunian yang padat, tidak tertata rapi, dan (hampir) cenderung kumuh telah menciptakan sebuah magnet yang menarik banyak orang untuk mengunjunginya. Lihat saja, prospek bisnis yang cerah (khususnya) di bidang kosan/pondokan memaksa para pemilik lahan di daerah Cisitu untuk mempergunakan lahannya seoptimal mungkin demi memperoleh laba yang maksimal. Bangunan dibuat bertingkat-tingkat dan menyalahi sistem tata ruang arsitektural, kamar-kamar di dalam bangunan bertingkat-tingkat tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga mampu memenuhi persamaan linear matematis tentang luas maksimum suatu bangun geometric dalam hubungannya dengan laba maksimum, dan lebih parahnya tidak terlihat jelas manajemen demogratif mengenai status batasan wilayah Rt atau Rw karena countless-nya bangunan-bangunan yang menyulitkan administrasi bagi dinas pertanahan. Akibatnya lagi, hampir tidak ada ruang terbuka hijau bagi penduduk setempat untuk menikmati udara segar dan angin semilir di pagi hari. Atau secara singkatnya, Cisitu telah menjadi semacam “pasar” yang mempertemukan penyedia jasa dan penikmat jasa dalam suatu kawasan yang terintegrasi. Anehnya, “pasar” yang ada disini berbeda dengan pasar di luar sana dimana “pasar” di Cisitu memenangkan semua pelanggannya walaupun dengan tingkat daya jual dan persaingan yang relative sama. Hebat juga ya…
Kembali ke persoalan..the bottle neck phenomenon..Laju transportasi di Cisitu memang sangat pesat, namun tidak dibarengi dengan penyediaan infrastruktur jalan yang memadai. Jalan utama Cisitu yang lebarnya tidak sampai 5 meter menjadi tulang punggung media transportasi seluruh penghuninya yang kini mencapai lebih dari 10.000 jiwa. Tidak hanya mobil pribadi penghuninya saja, namun jalan utama Cisitu juga turut memfasilitasi kepentingan transportasi para tamu dari luar Cisitu maupun armada transportasi umum. Coba bayangkan, misalnya ada 2.500 penghuni yang memiliki kendaraan pribadi (entah sepeda, motor, atau (lebih parah lagi) mobil) maka jumlah kapasitas moda transportasi terbukti melebihi kapasitas normal jalanan Cisitu yang sangat terbatas. Belum lagi banyaknya angkot yang melintas di jalan tersebut. Parah euy…
Puncaknya tentu saja terjadi pada hari sabtu malam lalu,.Betapa tidak fenomena leher botol benar-benar terjadi. Semua kendaraan berjejal-jejal ingin masuk dalam leher botol tersebut tanpa berpikir kapasitas maksimal yang mampu ditampung oleh satu leher botol dalam waktu yang bersamaan. Mobil-mobil yang hendak menuju Cisitu atas terjebak dalam fenomena tersebut. Antrian panjang mobil dari Cisitu Indah sampai Cisitu Lama benar-benar padat tak bergerak. Masing-masing pengendara entah bagaimana ceritanya, memiliki pikiran yang sama –menuju Cisitu-. Apakah mereka tidak menganalisis bahwa pada jam-jam sibuk segitu (jam 20.00) kendaraan akan sangat padat hanyalah menjadi sebatas wacana. Apakah kebiasaan sebelumnya yang jelas-jelas terlihat bahwa Cisitu akan sangat sibuk dengan antrian kendaraan pada malam minggu mungkin hanya menjadi pengalaman belaka. Namun dibalik semua itu, mungkin saja ada kepentingan yang lebih besar. Misalnya para Orang tua dan keluarga ingin menjenguk anak-anak mereka yang kuliah di Bandung dan berniat menghabiskan weekend bersama sekeluarga, atau seorang pujangga yang berniat mendampingi pujaannya sambil menghabiskan malam bersama, bahkan mungkin mereka yang sengaja mencari suasana kemacetan untuk sekedar bercengkrama dengan orang terkasih dalam dunia yang seolah-olah diam, bisa jadi. Yang jelas, dengan alasan-alasan seperti itulah kemacetan dan the bottle neck phenomenon bukanlah masalah. Dan tentu saja, semuanya DEMI KEPENTINGAN YANG LEBIH BESAR…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar